

KUNINGAN, – Menanggapi maraknya pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerhati pendidikan Kabupaten Kuningan, Iis Santoso, meminta semua pihak untuk tidak mendramatisir situasi.
Menurutnya, penanganan yang reaktif dan berlebihan justru dapat menimbulkan trauma bagi siswa dan merugikan banyak pihak.
- Antisipasi Karhutla Meluas, Laskar Gerindra Kuningan Terjun Padamkan Api di Lereng Ciremai
- Aksi Cepat Pasca-Kebakaran Cimerak, Bantuan Sembako Disalurkan Aleg Tina Wiryawati kepada Korban
- Cegah Kepunahan Seni Karuhun, GP Ansor Cigandamekar Gelar Festival Genjring Rudat di Momentum HSN 2026
- Geliatkan Sport Tourism, 180 Pelari dari Berbagai Daerah Jajal Keindahan Alam Kuningan di DTBL 3
- Dukung Kegiatan Warga, Legislator Gerindra Jabar Hj. Tina Wiryawati Gencar Salurkan Aspirasi di Kuningan
“Keracunan ini jangan terlalu didramatisir,” ujar Iis Santoso.
Ia melanjutkan, mestinya kalau memang semuanya berkeinginan program ini berjalan dengan benar, semestinya ditangani dengan baik-baik. ”Kalau terlalu banyak di-blow up secara negatif seperti ini, orang bisa trauma, anak-anak bisa trauma.” sebutnya.
Iis bahkan mensinyalir ada upaya politis untuk menggagalkan program tersebut, yang identik dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto. “Jelas yang diinginkan oleh mereka ini, program ini gagal. Program Prabowo gagal, ini diduga ada program politis,” tegasnya.
Mantan pejabat di Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan ini secara khusus mengkritik langkah penutupan dapur yang diduga menjadi penyebab keracunan, seperti yang diinstruksikan oleh Bupati Kuningan. Ia menilai kebijakan tersebut terlalu reaktif dan tidak bijaksana.
“Terlalu reaktif kalau menurut saya, jangan main tutup,” katanya. Ia berpendapat bahwa yang berhak menutup atau memberhentikan operasional dapur memiliki prosedur dan aturan yang jelas, tidak bisa dilakukan secara serampangan.
Menurutnya, penutupan sebuah dapur akan menimbulkan efek domino yang merugikan. Selain tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan, rantai ekonomi lokal juga akan terganggu.
“Menyangkut tidak hanya pemodal, Pak. Akibat dari ini, satu, tenaga kerja. Yang kedua, ekonomi meningkat. Coba saja lihat, pedagang ayam, pedagang telur, sayur-sayuran, semua hidup sekarang itu,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Iis juga mempertanyakan tujuan utama dari Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk untuk mengawasi program MBG. Ia berharap Satgas bertindak bijaksana untuk memastikan program berjalan dengan aman, bukan untuk menghentikannya.
”Saya mau tanya, Satgas ini mau MBG berlanjut atau diberhentikan? Satgas itu untuk apa dibentuknya?” tanyanya retoris. “Kalau ingin berlanjut, caranya yang bijaksana menurut saya. Jangan main seronok, hentikan, hentikan!”
Ia menambahkan, mustahil bagi para pengelola dapur untuk sengaja meracuni anak-anak. Ia justru melihat para pekerja di dapur sebagai relawan yang bekerja tulus siang dan malam untuk menyukseskan program pemerintah.
Oleh karena itu, investigasi harus dilakukan secara mendalam untuk menemukan akar masalah, bukan langsung menghakimi dan mengambil tindakan yang merugikan banyak pihak. (Nars)




Keputusan bupati sudah bagus dan bijak, karena menyangkut nyawa sisawa, coba deh kalo yang keracunan anak bpak sendiri gimana reaksi bapak?