KUNINGAN – Fenomena kematian massal Ikan Dewa atau Kancra Bodas di objek wisata Balong Girang, Cigugur, Kabupaten Kuningan, kian mengkhawatirkan. Memasuki hari kesembilan penanganan, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkanak) Kabupaten Kuningan mencatat lonjakan angka kematian yang signifikan.
Kepala Bidang Perikanan Dinkanak Kuningan, Denny Rianto, menjelaskan pada hari kesembilan ini, estimasi ikan yang mati mencapai kurang lebih 500 ekor.
- Bupati Dian Sentil Isu Kesejahteraan Budayawan di Hadapan Menteri Kebudayaan
- Dampingi Menteri Kebudayaan di Kuningan, Rokhmat Ardiyan Tekankan Pentingnya Jaga Nilai Sejarah
- Bicara di Depan Pegiat Budaya Kuningan, Fadli Zon: Indonesia Sebagai Super Power Kebudayaan, Siapkan Dana Indonesia Raya
- Napak Tilas ke Kuningan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ungkap Taktik Kejam Belanda Miskinkan Pejuang Nusantara
- Kunker Dua Hari di Kuningan, Menteri Kebudayaan RI Bakal Resmikan Museum Cipari dan Jelajah Situs Sejarah
Upaya penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Dinkanak, komunitas Akar, TNGC, BPBD, dan PDAU dengan mengevakuasi ikan-ikan yang tersisa ke kolam karantina untuk mendapatkan perawatan intensif.
Berdasarkan hasil pengamatan morfologis, Denny menjelaskan penyebab utama kematian ikan adalah serangan parasit jenis cacing Lernea. Parasit ini ditemukan menyerang bagian mulut, insang, hingga kulit ikan.
“Ikan merasa gatal akibat parasit ini, sehingga mereka menggesekkan badannya ke dinding kolam yang menyebabkan luka. Luka tersebut kemudian terinfeksi jamur, yang akhirnya memicu kematian,” jelas Denny, saat ditemui di Kolam Cigugur, Jum’at (6/2/2026) petang.
Selain faktor biologis, Denny menyoroti buruknya manajemen kualitas air sebagai pemicu utama meledaknya populasi parasit. Sirkulasi air dinilai sangat minim, ditambah dengan sistem pembuangan (outlet) yang tidak ideal.
Saluran outlet yang ada hanya membuang lapisan air permukaan yang kaya nutrisi dan oksigen, sementara air di lapisan bawah yang mengandung endapan zat berbahaya justru terperangkap di dasar kolam.
Fakta memprihatinkan lainnya terungkap saat tim melakukan nekropsi (bedah bangkai). Denny menyebutkan bahwa kondisi fisik ikan sangat kurus akibat kurangnya asupan nutrisi.
“Kelihatan sekali ikan sangat kurus. Setelah kami bongkar saluran pencernaannya, ternyata tidak ditemukan makanan apapun alias kosong. Jadi, kombinasi lingkungan buruk, kurang nutrisi, dan cuaca ekstrem membuat daya tahan tubuh ikan menurun drastis,” paparnya.
Sebagai solusi jangka pendek, tim gabungan kini tengah melakukan proses pengurasan dan pengeringan total kolam yang diperkirakan memakan waktu hingga dua hari ke depan. Langkah ini diambil untuk memutus mata rantai penyakit yang sudah terakumulasi di air kolam.
Selain itu, Denny merekomendasikan langkah strategis berupa pembongkaran sumur mata air lama yang sebelumnya sempat ditutup.”Kami berencana mendatangkan alat berat (beko) bersama tim PUTR untuk membuka kembali sumur yang dulu ditutup. Itu adalah sumber air yang bagus untuk habitat asli Ikan Dewa,” tegasnya.
Proses evakuasi dan penanganan darurat ini diperkirakan akan berlangsung selama 4 hingga 5 hari ke depan dengan harapan populasi Ikan Dewa yang tersisa dapat diselamatkan dari kepunahan lokal. (Nars)
























