KUNINGAN – Fenomena kematian massal Ikan Dewa atau Kancra Bodas di objek wisata Balong Girang, Cigugur, Kabupaten Kuningan, kian mengkhawatirkan. Memasuki hari kesembilan penanganan, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkanak) Kabupaten Kuningan mencatat lonjakan angka kematian yang signifikan.
Kepala Bidang Perikanan Dinkanak Kuningan, Denny Rianto, menjelaskan pada hari kesembilan ini, estimasi ikan yang mati mencapai kurang lebih 500 ekor.
- Tak Hanya Peduli Gunung, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Bersihkan Eceng Gondok Waduk Darma
- Tunjangan DPRD Kuningan Dipangkas demi Efisiensi Anggaran, Sekwan: Tidak Ada Ruang Gelap
- Segini Besaran Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD Kuningan Berdasarkan Kajian KJPP
- Buka Bukaan Tunjangan DPRD Kuningan, Sekwan Dorong Transparansi di Tengah Tuntutan Efisiensi Fiskal Daerah
- Ujang Kosasih “Bintang Lima” Pimpin PKB Kuningan Lagi, Sekjen Baru Aras Rasdi Usia 35 Tahun
Upaya penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Dinkanak, komunitas Akar, TNGC, BPBD, dan PDAU dengan mengevakuasi ikan-ikan yang tersisa ke kolam karantina untuk mendapatkan perawatan intensif.
Berdasarkan hasil pengamatan morfologis, Denny menjelaskan penyebab utama kematian ikan adalah serangan parasit jenis cacing Lernea. Parasit ini ditemukan menyerang bagian mulut, insang, hingga kulit ikan.
“Ikan merasa gatal akibat parasit ini, sehingga mereka menggesekkan badannya ke dinding kolam yang menyebabkan luka. Luka tersebut kemudian terinfeksi jamur, yang akhirnya memicu kematian,” jelas Denny, saat ditemui di Kolam Cigugur, Jum’at (6/2/2026) petang.
Selain faktor biologis, Denny menyoroti buruknya manajemen kualitas air sebagai pemicu utama meledaknya populasi parasit. Sirkulasi air dinilai sangat minim, ditambah dengan sistem pembuangan (outlet) yang tidak ideal.
Saluran outlet yang ada hanya membuang lapisan air permukaan yang kaya nutrisi dan oksigen, sementara air di lapisan bawah yang mengandung endapan zat berbahaya justru terperangkap di dasar kolam.
Fakta memprihatinkan lainnya terungkap saat tim melakukan nekropsi (bedah bangkai). Denny menyebutkan bahwa kondisi fisik ikan sangat kurus akibat kurangnya asupan nutrisi.
“Kelihatan sekali ikan sangat kurus. Setelah kami bongkar saluran pencernaannya, ternyata tidak ditemukan makanan apapun alias kosong. Jadi, kombinasi lingkungan buruk, kurang nutrisi, dan cuaca ekstrem membuat daya tahan tubuh ikan menurun drastis,” paparnya.
Sebagai solusi jangka pendek, tim gabungan kini tengah melakukan proses pengurasan dan pengeringan total kolam yang diperkirakan memakan waktu hingga dua hari ke depan. Langkah ini diambil untuk memutus mata rantai penyakit yang sudah terakumulasi di air kolam.
Selain itu, Denny merekomendasikan langkah strategis berupa pembongkaran sumur mata air lama yang sebelumnya sempat ditutup.”Kami berencana mendatangkan alat berat (beko) bersama tim PUTR untuk membuka kembali sumur yang dulu ditutup. Itu adalah sumber air yang bagus untuk habitat asli Ikan Dewa,” tegasnya.
Proses evakuasi dan penanganan darurat ini diperkirakan akan berlangsung selama 4 hingga 5 hari ke depan dengan harapan populasi Ikan Dewa yang tersisa dapat diselamatkan dari kepunahan lokal. (Nars)














