KUNINGAN – Masalah sampah yang kian pelik di Kabupaten Kuningan mendorong lahirnya inisiatif baru dari tingkat akar rumput. Untuk pertama kalinya, Rumah Sadulur Kuningan menggelar kegiatan “Sekolah Pengolahan Sampah” yang dipusatkan di Aula Montana Hotel, Kecamatan Cigandamekar, Rabu (26/11/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 172 peserta yang terdiri dari unsur Kepala Desa, perangkat desa, serta pengelola BUMDes dari 150 desa di Kabupaten Kuningan.
- Heboh Isu RTRW Kuningan ‘Dipesan’ Investor, Pejabat Dinas PUTR Buka Suara
- Sejalan dengan Pegiat Lingkungan, Mang Ewo Ingatkan Pemkab Kuningan Jangan Korbankan Zona Konservasi
- Ketua DPRD Kuningan Tegaskan Revisi RTRW Harus Seimbangkan Pariwisata dan Konservasi
- Kuningan Belum Miliki Bangunan SR, Puluhan Siswa Kurang Mampu Terpaksa Sekolah di Cirebon
- Ironi Gunung Mayana: Di Balik Viral Wisata Sunset, Warga Dihantui Krisis Mata Air
Ketua Rumah Sadulur Kuningan, Arief Amarudin, menegaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari keresahan bersama mengenai sampah yang telah menjadi “momok” menakutkan, baik di tingkat pemerintah daerah hingga desa.
“Sekolah ini benar-benar difungsikan sebagai tempat belajar. Kami mengajarkan tata cara pengelolaan sampah, membedakan organik dan anorganik, hingga mengubah masalah menjadi berkah yang bernilai rupiah,” ujar Arief saat diwawancarai di sela kegiatan.
Arief, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kertayasa ini, menjelaskan bahwa output utama dari kegiatan ini adalah duplikasi sistem pengelolaan sampah di masing-masing desa.
Jika setiap desa mampu memilah sampah dari rumah tangga, maka beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciniru akan berkurang drastis.”Target kami adalah meminimalisir suplai atau ‘devisa’ sampah ke TPA Ciniru. Dengan gerakan masif di 150 desa ini, kita optimis beban TPA bisa ditekan,” tegasnya.
Selain aspek lingkungan, Arief juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah untuk mendukung status Kuningan sebagai kabupaten wisata.
Menurutnya, edukasi ini penting agar wisatawan yang datang tidak membuang sampah sembarangan dan desa wisata memiliki sistem kebersihan yang mumpuni.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, para peserta mendapatkan materi dari narasumber kompeten, antara lain praktisi pertanian purba Deden Lesmana yang membahas pemanfaatan sampah organik untuk pertanian, serta akademisi UIN Bandung Dr. Rohmanur Aziz yang membahas tata kelola sampah.
“Ke depan, kami berharap pemerintah daerah memberikan dukungan fasilitas bagi desa-desa yang sudah berinisiatif mengolah sampahnya sendiri, demi mewujudkan visi Kuningan Bebas Sampah,” kata Arief didampingi Ketua Panitia, Irfan. (Nars)














