KUNINGAN – Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia dianjurkan untuk selalu berbuat baik dan membantu sesama. Namun, setelah beramal, sebaiknya tidak mengingat-ingat kebaikan yang telah dilakukan. Sebab, amal yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai di sisi Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh KH Uci Sanusi, penceramah asal Desa Purwasari, Kecamatan Garawangi, dalam Khutbah Jumat (21/2/2025) di Masjid DPRD Kuningan.
Menurutnya, seseorang yang merasa bangga atas amalannya justru bisa kehilangan nilai pahala.”Segala potensi yang kita miliki seharusnya menjadi ladang amal untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Namun, jangan pernah merasa bahwa amalan yang kita lakukan sudah banyak membantu orang. Jika demikian, maka amal itu bisa menjadi sia-sia dan malah menimbulkan dosa,” ujar KH Uci Sanusi.
- Penentuan Posisi! 3 Calon Ketua DPC PKB Kuningan Jalani UKK Hari Ini
- Tega Buang Anak ke Sungai, Pelarian Janda Muda di Kuningan Berakhir Diamankan Polisi
- Rakyat Gigit Jari, Di Tengah Gaung Efisiensi Anggaran, DPRD Kuningan Gelar Bimtek Miliaran Rupiah
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
KH Uci Sanusi menegaskan bahwa manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Semua yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah SWT, termasuk harta, jabatan, dan kesempatan untuk berbuat baik. Oleh karena itu, seseorang seharusnya tidak membanggakan dirinya atas amalan yang telah dilakukan.
“Kita ini hanya hamba Allah yang diberi kesempatan untuk berbuat baik. Jika amalan diungkit-ungkit, bahkan dijadikan kebanggaan, itu bisa mengurangi keikhlasan. Padahal, yang paling utama adalah amal yang dilakukan tanpa pamrih,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa amal yang disertai rasa ujub (bangga diri) atau riya (ingin dipuji) dapat menggugurkan pahala di akhirat kelak. Sebaliknya, orang yang beramal dengan ikhlas akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT tanpa harus mengharapkan pujian dari manusia.
Selain tidak membanggakan amalan, KH Uci Sanusi juga menekankan pentingnya selalu berbaik sangka kepada orang lain. Menurutnya, prasangka buruk hanya akan menimbulkan kegelisahan dalam hati dan berpotensi merusak hubungan sosial.
“Jangan berburuk sangka kepada orang lain. Kita tidak tahu bagaimana niat seseorang dalam berbuat sesuatu. Bisa jadi orang yang kita anggap kurang beramal justru memiliki amalan yang lebih besar di sisi Allah,” tuturnya.
Dengan berbaik sangka, seseorang akan lebih mudah menerima perbedaan dan menjaga ketenangan hati. Sikap ini juga akan menghindarkan seseorang dari sifat iri dan dengki yang bisa mengikis nilai kebaikan dalam diri.
Sebagai penutup, KH Uci Sanusi mengajak jamaah untuk terus memperbaiki diri dengan menjaga keikhlasan dalam beramal dan selalu berprasangka baik.
“Mari kita jadikan setiap kebaikan yang kita lakukan sebagai ladang pahala. Jangan merasa diri paling baik, karena hanya Allah yang Maha Menilai. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang diterima amal ibadahnya,” pungkasnya. (Nars)





























