KUNINGAN – Di tengah pesatnya arus informasi, ancaman kejahatan siber seperti doxing, penipuan (scam), hingga manipulasi deepfake semakin nyata. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Pelatihan Literasi Digital di Kedai Kopi Hawwu, Jumat (5/12/2025).


Mengusung tema “Digital Empowerment: Menguatkan Skill, Melindungi Data, Mengasah Budaya dan Etika Online”, kegiatan ini dipadati oleh seratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan di Kabupaten Kuningan.
- Waspada Sindikat TPPO Berkedok Kerja di Luar Negeri, Disnaker Kuningan Upayakan Kepulangan Warga Cipari
- Tragedi Tabrak Lari di Sindangagung Kuningan, Sang Adik Tewas Terlindas Truk
- BGN Cabut Sanksi Pembekuan 8 Dapur MBG Kuningan, Sekda Sentil Puluhan SPPG Belum Kantongi PBG
- Kuningan Jadi Daerah Pertama Adopsi Aplikasi Pemantau Makan Bergizi Gratis
- Tak Terima Penyelidikan Kasus PJU Kuningan Caang Dihentikan, Massa Ancam Lapor Kejagung Hingga Bongkar Dugaan Mark-Up!
Perwakilan Komdigi, Abdul Jalil Hermawan, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan masyarakat mampu mengambil asas manfaat dari teknologi digital, sekaligus meminimalisir dampak negatifnya.
”Harapannya masyarakat teredukasi. Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk hal produktif. Kita harus bisa menghindari aspek negatifnya, mulai dari doxing, scam, hingga deepfake yang kini marak,” ujar Jalil di sela-sela acara.
Jalil juga mengingatkan bahwa saat ini setiap orang bisa menjadi pembuat konten (content creator). Oleh karena itu, etika digital menjadi kunci. Ia mengimbau agar konten yang diproduksi tidak menyinggung SARA atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi (hoaks).
”Masyarakat harus terliterasi. Jika tidak, potensi kerugian akibat distorsi informasi akan sangat besar,” tambahnya.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Kuningan, Sri Laelasari, menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi. Menurutnya, antusiasme mahasiswa dan pelaku UMKM yang hadir menunjukkan tingginya kebutuhan akan pemahaman keamanan digital.
”Keamanan digital itu vital. Jangan sembarangan membagikan data pribadi di media sosial karena sangat berbahaya,” tegas Sri.
Legislator perempuan ini berharap kegiatan seperti ini mampu mencetak generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bijak dalam mengantisipasi risiko dunia maya.
Sementara itu, Pegiat Digital sekaligus narasumber acara, Marino, menjelaskan alasan mahasiswa menjadi target utama pelatihan ini. Menurutnya, mahasiswa adalah agen perubahan yang efektif untuk menyuarakan nilai-nilai positif di ruang digital.
”Mahasiswa adalah generasi penerus. Mereka yang akan menyuarakan nilai positif di media sosial,” kata Marino.
Ia pun berharap pelatihan ini bukan menjadi agenda seremonial belaka. Mengingat pentingnya materi yang disampaikan, Marino mendorong adanya pelatihan lanjutan yang lebih mendalam.
”Harapannya ini continue, tidak berhenti di sini. Karena literasi digital butuh pemahaman yang berkelanjutan,” kata dia. (Nars)























