KUNINGAN – Menjelang peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah yang jatuh pada 18 November 2025, salah seorang dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan, Dudung Abdu Salam, M.Pd., mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk kembali meneguhkan makna perjuangan organisasi Islam tertua di Indonesia itu.
Menurutnya, di usia yang cukup tua ini Muhammadiyah diharapkan terus menggelorakan dan menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam tindakan nyata.
- Penentuan Posisi! 3 Calon Ketua DPC PKB Kuningan Jalani UKK Hari Ini
- Tega Buang Anak ke Sungai, Pelarian Janda Muda di Kuningan Berakhir Diamankan Polisi
- Rakyat Gigit Jari, Di Tengah Gaung Efisiensi Anggaran, DPRD Kuningan Gelar Bimtek Miliaran Rupiah
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
Bagi Dudung, tema milad tahun ini, “Mewujudkan Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin dalam Konteks Ke-indonesiaan”, bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral agar umat Islam semakin menebarkan kedamaian, keadilan, dan manfaat bagi semua.
“Islam yang sejati adalah Islam yang bergerak, berbuat, dan memberi manfaat. Inilah Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tutur Dudung dalam refleksi yang diterima redaksi, Rabu (5/11/2025).
Ketua Majelis Dikdasmen PCM Kecamatan Kuningan ini menegaskan, semangat pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, menjadi teladan abadi. Baginya, dakwah bukan hanya soal menyeru salat dan ibadah ritual, tetapi juga perjuangan nyata untuk memperbaiki nasib masyarakat agar lebih sejahtera dan bermartabat.
“Beliau, KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa keimanan harus tampak dalam amal. Itulah yang membedakan Muhammadiyah—Islam yang beraksi, bukan sekadar berbicara,” ujarnya.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, Dudung menilai, sejak awal Muhammadiyah telah menegaskan posisi Islam yang ramah terhadap kebhinekaan dan budaya lokal. Islam yang hadir bukan untuk menghapus tradisi, melainkan memperkaya dan menyucikan nilai-nilai kebaikan yang sudah ada.
“Rahmatan lil ‘alamin dalam konteks ke-Indonesia-an berarti Islam yang memperkuat Pancasila, menghargai perbedaan, dan menegakkan keadilan sosial,” jelasnya.
Jejak nyata perjuangan itu, lanjut Dudung, bisa dilihat dari ribuan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Sekolah, universitas, rumah sakit, hingga lembaga sosial menjadi saksi bagaimana gerakan ini menghidupkan dakwah kemanusiaan.
“Ketulusan beragama diukur dari sejauh mana kita memberi manfaat bagi sesama,” kata Dudung mengutip hadits Nabi.
Memasuki era globalisasi dan digitalisasi, ia menilai tantangan umat semakin kompleks. Modernitas sering membuat manusia kehilangan arah, sementara arus informasi tanpa batas menggerus nilai moral generasi muda.
Karena itu, nilai Islam rahmatan lil ‘alamin perlu diterjemahkan lebih kontekstual—bukan hanya dalam ceramah, tetapi dalam pendidikan, etika digital, dan solidaritas sosial.
“Lebih dari sekadar khotbah, dakwah kini menuntut keteladanan, kreativitas, dan kepedulian,” pesannya.
Menutup refleksinya, Dudung berharap Milad ke-113 Muhammadiyah menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat tajdid—pembaruan—yang sejalan dengan nilai iman dan kemajuan.
”Muhammadiyah harus terus menjadi pilar moral bangsa, menyeimbangkan spiritualitas dan ilmu pengetahuan, agar Indonesia tumbuh sebagai peradaban yang maju, adil, dan berakhlak,” tandas mantan Komisioner KPU Kabupaten Kuningan ini. (Nars)

























