KHAZANAH – Bulan suci Ramadhan kembali menyapa. Bagi umat Islam, kedatangan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah ini bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Lebih dari itu,
Ramadhan adalah madrasah spiritual dan ladang pahala yang momentumnya sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.
- Lawan Fluktuasi Harga Pasar, Emak-Emak Kuningan Sulap Pekarangan Jadi ‘Supermarket’ Hidup
- Kalahkan Kota Bandung, Promosi Digital Disporapar Kuningan Sabet Predikat Terbaik se-Jabar di SWJ Award
- Bupati Mangkir Temui Massa, HMI Kuningan Ancam Kepung Pemda dalam Aksi Jilid Dua
- Survei Poltracking Tempatkan Elektabilitas PKB di Posisi Keempat Nasional, DPC Kuningan Tegaskan Komitmen Layani Masyarakat
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
Secara harfiah maupun maknawi, Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Mengutip berbagai literatur keislaman dan pesan moral dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), bulan ini menjadi waktu di mana pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu.
Suasana batin umat Islam dikondisikan sedemikian rupa untuk lebih mudah menekan hawa nafsu dan berbuat kebaikan.Namun, keistimewaan Ramadhan sejatinya tidak hanya berpusat pada ibadah puasa di siang hari. Esensi dan puncak spiritualitas Ramadhan justru sangat terasa ketika matahari terbenam.
Menghidupkan malam-malam Ramadhan (qiyamul lail) adalah kunci untuk meraih kemuliaan yang sesungguhnya. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada malam-malam di bulan puasa. Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim secara tegas menyebutkan, “Barangsiapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Menghidupkan malam di sini bukan berarti terjaga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Rangkaian ibadah yang dianjurkan mencakup salat Tarawih berjemaah, salat Tahajud, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berzikir, hingga beri’tikaf di masjid. Aktivitas spiritual ini menjadi sarana “pemutihan” atas kesalahan-kesalahan yang telah lalu, sekaligus menjadi media komunikasi paling intim antara seorang hamba dengan Sang Pencipta di sepertiga malam terakhir.
Keistimewaan lain yang membuat malam-malam Ramadhan begitu agung adalah keberadaan Lailatul Qadar — satu malam rahasia yang tersembunyi, di mana nilainya lebih baik dari seribu bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan).
Tokoh-tokoh agama dan ulama senantiasa mengingatkan masyarakat agar tidak mengendurkan semangat beribadah saat bulan puasa memasuki fase akhir. Justru pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir inilah, anugerah terbesar diturunkan.
Siapapun yang beruntung mendapati malam tersebut dalam keadaan khusyuk beribadah, amalannya akan dilipatgandakan dengan hitungan yang melampaui usia biologisnya sendiri.
Pada akhirnya, menghidupkan malam Ramadhan adalah sebuah proses penempaan batin. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi yang menguras energi, heningnya malam Ramadhan menawarkan ruang untuk muhasabah atau introspeksi diri secara mendalam.
Mari pastikan Ramadhan kali ini tidak sekadar lewat menjadi rutinitas tahunan. Optimalkan setiap fasenya—siang yang dihiasi kesabaran berpuasa dan malam yang diterangi lantunan ayat suci—agar kelak kita benar-benar keluar dari bulan ini sebagai pribadi yang fitrah, bersih, dan bertakwa. (Nars/dari berbagai sumber)






























