KHAZANAH – Penceramah kondang, Ustadz Abdush Shomad (UAS), membagikan penjelasan mendalam terkait tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar serta pandangan Islam mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid. Dalam tausiahnya, beliau menekankan bahwa esensi ibadah harus tercermin melalui perubahan akhlak dan persiapan estafet generasi pemakmur masjid di masa depan.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Jauhi Perbuatan Setan untuk Meraih Ketakwaan
Mengawali kajiannya, UAS mengingatkan para jamaah untuk menjauhi segala perbuatan najis yang disukai setan, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 90. Berbagai perbuatan seperti mengonsumsi minuman keras (khamar), narkoba, berjudi, hingga mengundi nasib wajib ditinggalkan secara mutlak.
Menurut UAS, meninggalkan larangan-larangan tersebut adalah kunci agar umat Islam senantiasa berada di jalan kemenangan dan ketakwaan yang sejati.
Sinar Redup dan Perubahan Akhlak sebagai Tanda Lailatul Qadar
Saat menjawab pertanyaan jamaah soal tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar, UAS memaparkan bahwa salah satu tanda utamanya adalah hadirnya rasa tenang (sakinah) di dalam hati yang murni bersumber dari Allah SWT.
Secara fisik, fenomena alam pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar biasanya ditandai dengan sinar matahari yang terbit tampak lebih redup. UAS menjelaskan fenomena ini terjadi karena malaikat yang tercipta dari cahaya sedang berbondong-bondong naik kembali ke langit setelah turun memadati bumi pada malam tersebut, sehingga cahaya mereka mengalahkan teriknya matahari.
Namun, UAS berpesan agar umat Islam tidak semata-mata berpatokan pada kondisi cuaca. Merujuk pada pemaparan Tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT sengaja merahasiakan siapa saja yang berhasil meraih malam Lailatul Qadar, taubat nasuha, dan haji mabrur agar hamba-Nya senantiasa berharap dan tidak berhenti berikhtiar.
“Tanda pasti dari didapatkannya Lailatul Qadar adalah adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik setelah Ramadan. Misalnya, yang sebelumnya mudah marah menjadi lebih sabar, atau yang tadinya bakhil (pelit) berubah menjadi dermawan,” urai UAS.
Masa Depan Masjid Ada pada Kehadiran Anak-anak
Mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid yang kerap menjadi perdebatan, UAS mencontohkan sikap teladan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah tidak pernah memarahi atau melarang cucu beliau, Hasan dan Husain, meski mereka menaiki punggungnya saat sujud maupun ketika Nabi sedang berada di atas mimbar khutbah.
UAS menegaskan bahwa keberadaan anak kecil yang sesekali berlarian atau menangis di masjid justru merupakan pertanda baik bagi kelangsungan syiar Islam. “Dua puluh tahun yang akan datang, anak-anak inilah yang akan terus menggemakan takbir di masjid. Kalau di masjid sudah tidak ada lagi anak kecil, alamat masjid itu ke depannya hanya akan diisi oleh orang tua yang tinggal menunggu malaikat maut,” tegasnya.
Meski sangat dianjurkan untuk mengenalkan masjid sejak dini, UAS menggarisbawahi adanya syarat dan ketentuan (adab) yang wajib diperhatikan para orang tua. Anak yang dibawa ke masjid idealnya sudah masuk usia mumayyiz, yakni bisa memahami arahan dan merespons ketika ditegur.
Selain itu, orang tua wajib menjaga kebersihan anak dari potensi najis (seperti memastikan popok yang dipakai bersih dan tidak bocor), serta mengarahkan anak-anak untuk berada di posisi shaf (barisan) khusus di belakang agar tidak memutus shaf jamaah dewasa. (Nars)






























